Tampilkan postingan dengan label kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kenangan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Agustus 2014

REVIEW “SUNSET BERSAMA ROSIE” – TERE LIYE



Judul Buku                  : Sunset bersama Rosie
Penulis                         : Tere – Liye
Penerbit                       : Mahaka Publishing
Tahun terbit                 : 2011- 2014
Harga Buku                 : Rp. 65.000
Jumlah halaman           : 426 hlm
Editor                          : Andriyati
Desain Cover              : Mano Wolfie
Layout                         : Alfian
ISBN                           : 978-602-98883-6-2

            Ada banyak cara menikmati sepotong kehidupan saat kalian sedang tertikam belati sedih. Salah-satunya dengan menerjemahkan banyak hal yang menghiasi dunia dengan cara tak lazim. Saat melihat gumpalan awan di angkasa. Saat menyimak wajah-wajah pulang kerja. Saat menyimak tampias air yang membuat bekas di langit-langit kamar. Dengan pemahaman secara berbeda maka kalian akan akan merasakan utuh— yang jarang disadari— atas makna detik demi detik kehidupan.”

            Harus ku akui, novel ini benar-benar menjebak perasaanku ketika membacanya. Aku memang tidak pernah menyesal, bahkan aku harus bersyukur karena telah mengambil buku ini. Membawanya pulang, lantas tidak di diamkan sendirian. Aku berusaha berkenalan dengan setiap kata yang di tuliskan Bang Tere. Kata-kata yang tidak sok kritis, tidak besar, sederhana, ringan, namun menyentuh relung hati yang dalam dari makna kehidupan. Baiklah, review ini aku persembahkan sebagai rasa terimakasihku pada penulis yang sudah menyajikan hidangan yang sedap untuk dibaca dan pastinya untuk selalu direnungkan.

            Rosie, seorang ibu yang memiliki empat orang anak. Disini Bang Tere menyebutkan empat kuntum bunga. Why? Why the Author written four flowers? Yeah, because all of them using name of flowers. Ya, anak-anak dari Rosie ini diberikan nama Anggrek, Sakura, Jasmine, dan Lili. Oh, saya terjebak hingga lembar kesekian banyaknya saya baru menyadari itu. Sungguh terlalu serius saya hingga melampaui sadar. J
            Wanita ini memiliki suami bernama Nathan, laki-laki yang dipilihnya menjadi pendamping hidup sekaligus menanam empat kuntum bunga yang sangat dicintai mereka. Hingga akhirnya, anak-anak mereka tumbuh menjadi anak-anak yang lucu, cantik, baik, dan keluarbiasaan lainnya. Namun takdir berkata lain, Nathan harus pergi selamanya. Kejadian di pantai Jimbaran membuat pupus sudah kebahagiaan yang Rosie bangun bersama Nathan, suami yang mencintainya. Tak hanya itu, kebahagiaan kempat anak-anaknya juga harus sirna dalam sekejap.
            Tegar, laki-laki yang telah lama dipanggil paman ini oleh keluarga bahkan anak-anak Rosie harus membatalkan pertunangannya dengan Sekar. Tidak hanya itu, ia juga merelakan pekerjaannya yang sukses di Jakarta terlepas begitu saja. Kejadian menyedihkan yang dialami Rosie dan anak-anaknya tidak hanya membawa satu, dua, atau tiga orang saja. Melainkan menarik  semua tokoh dalam novel ini untuk membantu, berduka, menemani, member pemahaman baru tentang apa sih sebenarnya arti dari kehilangan itu sendiri? Saya sendiri tidak dapat berkata apa-apa lagi tentang tokoh Tegar dalam novel ini, karakternya benar-benar patut dijadikan tokoh ayah yang berperangai super- super baik. Tidak hanya baik sepertinya kata yang tepat untuk laki-laki ini, tapi juga sempurna baiknya terhadap Rosie dan keempat anak-anaknya. Alih-alih kesempurnaannya menyayangi Rosie dan keempat anaknya. Justru membuat lelaki yang usianya sudah tidak muda lagi ini harus menghadapi masalah yang menurut saya, sebenarnya berasal dari keputusannya sendiri untuk begitu khawatir terhadap kehidupan Rosie. Hingga Tegar benar-benar mengeluarkan kesempurnaannya kepada keluarga Rosie.  
Sebelum saya melanjutkan karakter Tegar ini, ada bagian yang tak terduga tentang cinta antara Tegar dan Rosie, juga Nathan. Ada sebuah masa lalu yang dulu pernah menjadikan kenangan untuk mereka. Ada sepelintir harapan, perasaan, gelisah, rasa sakit, menyesal, dan sebagainya yang teramat mendalam dari Tegar. Membuat lelaki ini menemukan harapan baru, yaitu Sekar. Sayangnya, kejadian yang merenggut Nathan harus membuat Sekar juga ikut terluka karena Tegar, lelaki yang berjanji akan menikahinya.
            “Kepergian tidak selalu berarti kesedihan berkepanjangan.” (hlm 96)
            “…. Dua puluh tahun dari sekarang, kau akan lebih menyesal atas apa-apa yang tidak pernah kau kerjakan dibandingkan atas apa-apa yang kau kerjakan, Tegar.” (hlm 171)
            Sekar, gadis yang ku artikan sangat luar biasa. Sekar adalah gadis yang akan menjadi calon istri Tegar. Gadis yang harus menerima jika kekasihnya, Tegar tidak hadir saat calon suaminya berjanji akan menjalankan janji-janji suci dengannya, memiliki keluarga kecil yang utuh. Namun, gadis ini begitu luar biasanya mau memberi kesempatan, pemahaman, menunggu, dan pengertian untuk Tegar. Jujur, aku suka dengan karakter Sekar di novel ini. Bahkan sangat suka. Gadis yang tidak menyiakan  arti kesempatan untuk dirinya sendiri. Gadis yang selalu sabar, menunggu, dan memberikan harapan untuk Tegar. Meski terkadang akhirnya keputusan menunggu dan kesempatan kedua itu membuatnya menyesal.  Jika dibandingkan Rosie, justru aku lebih memilih Sekar. Rosie bagiku wanita yang tidak pernah memahami arti kesempatan, bahkan ketika dirinya sudah memiliki keempat anak yang baik dan lucu, mendapatkan perhatian dari seluruh orang yang mengenalnya maupun yang baru mengenalnya. Misalnya saja, Ada Clarice, wanita bule yang sangat baik hati pada keluarganya. Berjasa meminjamkan helicopter penelitiannya. Rosie tidak pernah memahami perasaan Sekar menurutku, saat dia pulang dan kembali dari Shelter, milik Ayasa. Bertemu kembali dengan anak-anaknya, bahkan memiliki Tegar yang seharusnya sudah memiliki gadis terbaiknya. Wanita itu bahkan tidak menanyakan bagaimana pertunangan Tegar dengan Sekar? Hanya menanyakan kabar gadis itu apakah baik-baik saja? Jelas tidak, bagaimana mungkin gadis yang sudah menunggu kepastian dari seorang lelaki yang dicintainya akan baik-baik saja, gadis yang kedua orang tuanya telah dijanjikan untuk membahagiakan anak gadis satu-satunya. Sedangkan lelaki itu lantas pergi begitu saja mengurus dan memperhatikan wanita lain. Memintanya untuk selalu bersabar, menunggu waktu, dan menunggu. Hingga akhirnya menjadi kekecewaan yang tak akan pernah habis dalam hidupnya. Tegar, justru mengatakan gadis itu baik-baik saja. Yah, walaupun Rosie memiliki alasan yang tepat akan kebahagiaannya untuk terus bergantung pada Tegar. Berkaitan dengan Sekar, karakter dari Tegar yang tidak aku sukai dari bagaimana cara lelaki itu mengambil keputusan, bagaimana lelaki itu memaknai arti kesempatan. Hingga akhirnya kesempatan itu kandas diambil orang. Tanpa sadar juga menyakiti hati orang lain. Menghilang begitu saja, tanpa pernah mau jujur tentang perasaannya, tanpa pernah mau menjemput kesempatan itu. Sama seperti Rosie. Keputusan Tegar yang akhirnya membuat Sekar kecewa dan kehilangan kesempatan untuk kedua kalinya. Namun, pada akhirnya Sekar harus menerima, mempelajari arti menerima, memaafkan, dan merelakan.  Tentunya khas dari novel ini, menerima dengan pemahaman yang baru. Menerima dengan pemahaman yang berbeda. Keputusan ini tak lepas dari campur tangan Lili, anak bungsu Rosie yang di akhir cerita akhirnya mau mengatakan sesuatu, berbicara selancar-lancarnya. Di usia gadis kecil itu yang ketiga tahun. Rosie sepertinya layak berterimakasih pada anak bungsunya Lili. Novel ini akhirnya mampu membuatku sadar akan arti kesempatan, keputusan, keinginan, rasa memiliki, pengorbanan, dan segalanya. Seperti apa yang dikatakan Bang Tere diback cover novel ini. Novel yang tidak memberikan jawaban pasti atas pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan tentang perasaan. Hati manusia lebih tepatnya. Novel ini hanya memberikan pembacanya pengertian yang berbeda.  Aku jadi berpikir, Tegar sebagai laki-laki yang telah memiliki Sekar seharusnya menatap apa yang ada didepannya, menengok kembali masa depan. Memilih untuk tidak memberikan harapan besar darinya bagi keluarga Rosie, khususnya anak-anak Rosie. Dengan begitu, tidak ada yang tersakiti bukan? Karena menurutku, Rosie memiliki segalanya. Sedangkan Sekar tidak. Itu semua bukankah keputusan Rosie untuk memilih Nathan. Dan, pastinya setiap pilihan itu ada konsekuensinya. Ada pertanggungjawabannya bukan? Tapi, di novel ini tidak begitu adanya. Novel ini memberikan pembaca untuk memahami kesempatan. Jika Tuhan menakdirkan setiap manusia yang berusaha untuk mendapatkan yang namanya "kesempatan".  Setiap orang tentunya memiliki deskripsi yang berbeda dari novel ini. Sama seperti saya sendiri. Banyak kutipan-kutipan yang tak hanya bagus dari novel ini. Namun sangat mencukil hati yang dalam. Tak hanya itu, Bang Tere membuat pemahaman kehidupan, menerjemahkan kata dalam dimensi ruang yang berbeda tentunya. Ada banyak cerita yang sederhana namun sangat mendalam dari novel ini. Tentunya cerita atau dongeng yang disetiap harinya dibacakan oleh tokoh Tegar kepada keempat anak-anak Rosie. Oh, ya saya tidak lupa juga untuk memfavoritkan tokoh Jasmine dalam novel ini. Anak dari Rosie yang tulus, lucu, pandai mengurus adiknya Lili dan mengerti perasaan orang lain. Novel ini secara keseluruhan tidak lantas membuat pembaca berhenti untuk membalik lembar demi lembar halaman. Termasuk saya sendiri. J Bahkan, saya menghabiskan seharian waktu saya untuk membaca novel setebal 426 halaman ini. Namun, ada bagian yang membuat saya merasa bosan. Bagian dimana Tegar dan anak-anak Rosie. Menemani berlibur, menemani sekolah dan sebagainya. Walaupun, ada sentuhan travel-nya pada novel ini. Keindahan sunset di Jimbaran, Danau Segara Anakan, Gunung Rinjani, keindahan Lombok, dan keindahan Bali. Berlibur sambil membaca novel yang layak mendapat sebutan Best Seller ini, bukankah menakjubkan? Apalagi dimusim liburan seperti ini. I give five star from five. 
            Sudut pandang dalam novel ini yaitu orang pertama pelaku utama, yang dimainkan oleh tokoh Tegar. Tentunya akan sangat menarik bukan? Dan, menyentuh pastinya. Untuk urusan huruf dan masalah typo sepertinya tidak ada. Hurufnya tidak begitu kecil. Jadi nyaman ketika membacanya. Sedangkan untuk desain cover, aku sangat suka. Covernya yang benar-benar Sunset, dan menggambarkan pantai. Perpaduan Hue (warna) dari terang ke gelap. Ada value tersendiri dari cover novelnya. Tentunya, novel ini tidak hanya cantik covernya tapi juga isinya. Oke selesai sudah review dari saya. Selamat membaca. Ada kutipan-kutipan menarik dari novel ini. Don’t miss it!
1.      ” Diantara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu yang paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh di kaki gunung. Pagi, berarti satu hari yang melelahkan telah terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan terlewati lagi. “

2.       “Tahukah kau, untuk membuat seseorang menyadari apa yang dirasakannya, justru cara terbaik melalui hal-hal menyakitkan. Misalnya kau pergi. Saat kau pergi, seseorang baru akan merasa kehilangan, dan dia mulai bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya dia rasakan.”

3.       “Kata orang bijak, kita tidak pernah merasa lapar untuk dua hal. Satu, karena jatuh cinta. Dua, karena kesedihan yang mendalam. Maka akan lebih menyakitkan akibatnya ketika kita mengalami jatuh cinta sekaligus kesedihan yang mendalam.” – Sunset Bersama Rosie



Senin, 19 Mei 2014

Bidadari Tanpa Sayap

Cerpen ini aku adaptasi dari salah satu kumcer novelis terkenal Indonesia yaitu Dee. Namun, berbeda tokoh dan jalan cerita. Disini, aku mencoba memaknakan kehadiran seorang ibu di hati anaknya. Semoga kalian yang membaca blogku, semakin mencintai wanita dengan tiga huruf yaitu "IBU".


Dialah satu-satunya bintang yang dapat kuraih dari jutaan bintang di langit. Dialah satu-satunya pula bidadari yang dikirimkan Tuhan dengan segala cinta dan kasih sayangnya. Cintanya adalah berjuta-juta ketulusan dan air mata yang takkan habis. Baginya, cinta itu tak hanya sekadar waktu untuk dirinya sendiri melainkan untuk anak-anaknya,  dialah ibu.
Tak ada yang mengerti mengapa aku ada disini. Bersama dengan malaikat-malaikat kecil yang tertidur dengan satu harapan, yaitu bertemu dengan bidadari tanpa sayap mereka yang tak lain ibu. Malam itu, mereka semua tertidur dengan napas naik turun, walaupun hati mereka masih berharap bertemu dengan seseorang yang telah membawanya ke dunia. Aku mengamati wajah-wajah mungil mereka yang seakan-akan berpesan bahwa Aku baik-baik saja ibu. Hati kecilku berkata pesan itu akan tiba kepada ibumu, batinku. Namun entah dengan cara apa.
Tidak semua proses kelahiran bayi berjalan sempurna. Bunda, selalu menanam harap sebelum tangis awal sang buah hati pecah. Ia mengeluarkan seluruh keringat, tenaga, serta air matanya hanya untuk melihat sosok malaikat kecilnya. Tak peduli sakit yang terus menerus menghantam tubuhnya, ia tetap melawan dengan segenap kekuatannya.
***
Hari ini tepat aku berusia dua puluh lima tahun. Usiaku seakan berjalan sangat cepat, malam ini aku mengadakan reunian bersama teman-teman masa SMA. Sungguh ini sebuah kebetulan atau tidak, atau ini skenario yang tuhan berikan untukku. Tepat, tanggal 22 Desember hari ulang tahunku dan kami saling bertemu.
Malam ini aku datang terlambat, padahal hari ini akulah yang menjadi tuan untuk mereka. Kakiku melangkah menuju sebuah bistro yang cukup ramai oleh pengunjung. Tak heran jika bistro ini dipenuhi oleh lautan manusia, karena makanan yang ditawarkan mampu memanjakan lidah siapa saja yang menginjakkan kaki di dalamnya. Bistro yang sederhana ini merupakan tempat favorit kami sejak SMA. Saat kakiku melangkah ke dalam, lampu-lampu remang menyambut hangat kedatanganku. Karena sangat penuh dengan kepala-kepala manusia, aku sedikit kebingungan menemukan meja mereka. Sampai pada akhirnya salah satu dari mereka berteriak memanggil namaku. Wajahnya sedikit berbeda dengan delapan tahun yang lalu. Dia mempersilahkan aku duduk disebuah kursi kosong yang berada didekatnya. Aku memberikan seulas senyuman pada mereka sebagai tanda terimakasih sekaligus permohonan maafku.
Kami pun memulai pembicaraan dengan menanyakan kabar masing-masing dan tak lupa mereka mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Terkadang gelak tawa muncul diantara kami, dan merespons dengan kalimat-kalimat yang bermacam-macam atas pembicaraan apapun.
“Oh ya, bagaimana dengan pekerjaanmu Dev?” tanya wanita berambut panjang sebahu kemudian melanjutkan “Apa pekerjaanmu sangat nyaman?” tanyanya lagi seperti seorang polisi yang sedang mengintrogasi tersangka.
Dengan cepat segera kujelaskan pada mereka jika aku bekerja disebuah rumah sakit dan aku sangat mencintai pekerjaanku. Beberapa orang dari mereka yang mendengar penjelasanku sontak terlihat kagum dan ada yang menunjukkan reaksi biasa saja. Keadaan kembali sunyi, sampai seorang laki-laki berkemeja putih memecah keheningan. “Hari ini kan tepat dengan hari ibu, sekaligus hari ulang tahun Deva. Bagaimana kalau masing-masing dari kita bertukar cerita tentang ibu?” sarannya dengan wajah penuh harap. “Aku sangat setuju dengan idemu.” laki-laki disampingnya angkat bicara lalu menambahkan “Bagi yang ceritanya mengharukan, akan mendapatkan hadiah yaitu...” Ia menunjuk semua makanan yang terhidang diatas meja sambil tersenyum.
Ide tersebut seperti kurang disetujui oleh mereka, termasuk aku. Wajar saja jika aku tidak sependapat, karena bagaimanapun makanan yang tersaji sudah pasti aku yang membayarnya. Tiap-tiap wajah saling menatap satu sama lain. Tiba-tiba, wanita berambut ikal angkat bicara, “Aku setuju dengan ide bercerita itu. Tapi, aku kurang setuju jika makanan seperti yang tersaji diatas meja dijadikan hadiahnya. Lebih baik, yang menang diizinkan untuk meminta apapun yang diinginkannya.” dia menjelaskan dengan nada tegas dan penuh penekanan. Sementara yang lain hanya mengangguk tanda setuju dengan ide kedua.
Akhirnya, ide kedua disetujui oleh mereka dan juga aku. Pencerita dimulai dari wanita berambut panjang sebahu bernama Nita. Dia bercerita mengenai ibu. Seorang ibu yang sangat dicintainya hingga dia menjadi seorang pengusaha kaya diusianya sekarang yang terbilang masih muda. Sejak ayah dan ibunya bercerai, ketika ia berusia dua belas tahun. Sang ibu rela menjual perhiasan yang dimiliki hanya untuk membiayai sekolahnya. Kemudian, cerita dilanjutkan oleh laki-laki berkemeja putih. Terlihat tatapannya menerawang pada bola-bola lampu yang remang, tatapannya terlihat kosong. Kecuali apa yang ada di benaknya saat itu. Dia bercerita tentang mimpinya bertemu dengan sosok cahaya putih. Dalam mimpinya itu, cahaya putih itu berubah menjadi sosok manusia. Dia mencoba mengira-ngira siapa sosok cahaya yang dilihatnya. Saat cahaya itu hendak merengkuhnya justru dia merasakan hangat dan terbangun. Sampai saat ini, dia mengira jika sosok cahaya dalam mimpinya adalah malaikat yang menyerupai ibunya.
Kami semua terdiam dan merenungkan kisah yang telah diceritakan. “Apa mungkin, sosok itu adalah malaikat?” tanya gadis berkulit putih memakai kacamata. “Aku yakin, jika sosok cahaya itu adalah malaikat yang menyerupai ibuku. Karenanya, aku takut jika ia mengambil ibu disisiku. Aku tidak akan pernah membayangkan jika ibu menghilang dari pandanganku.” jawabnya dengan alasan yang terlihat meyakinkan jika sosok tersebut adalah malaikat.
            Setelahnya, sosok wanita berambut pirang bernama Stella mulai berkisah mengenai ibunya. Ia bercerita mengenai sosok ibu yang sukses diusia muda. Ibu yang lulusan sarjana dan bergelar doktor di negeri orang. Sampai sekarang ini ia pun selalu merasa bahagia dalam hidup yang bebas dan penuh dengan mimpi yang terealisasikan hingga kini.
            Jarum jam pun terus berdetak, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Cerita itu masih terus berlanjut, hingga diiringi timpalan pertanyaan. Aku yang terdiam sejak tadi, hanya mengangguk mendengar tiap kisah dari si pencerita.
            “Sekarang... giliranmu.” suara itu memecah keheningan. Sampai aku yang menopang dagu dengan satu tangan menumpu dimeja tercengang. Setiap kepala menoleh ke arahku. Ekor mataku tak mampu menatap mereka satu persatu. Segera aku mengalihkan pandangan menatap angkasa dari balik kaca. Kutatap bintang diatas langit. Sejenak aku teringat sosok bidadari yang dulu ada dan selama-lamanya tetap ada. Ya benar bidadari tanpa sayap. Bidadari yang selalu memberi perlindungan saat anak-anak manusia diam. Diam dalam sebuah ruang yang tak terdefinisikan. Saat tangis sang anak pecah dan tak bisa terlihat, namun mampu menembus dimensi ruang dan waktu. Seketika itu, hati ibu yang berbicara hingga ia menghampiri malaikat kecilnya. Memberikan harapan agar ia bisa terus terlindungi.
            Aku memulai kisah, tentang seorang anak manusia yang hidup dalam kesederhanaan. Tentang anak manusia yang hidup dalam penderitaan. Hingga ia tak sanggup melewati kehidupan yang menyeretnya masuk dan tenggelam dalam kegelapan. Hanya warna hitam yang ia tahu dalam kehidupan ini. Ia tidak sadar akan adanya pelangi yang berwarna-warni. Ia tidak tahu warna biru, merah, kuning, hijau, jingga, ungu, dan lainnya. Yang ia pahami hanya hitam. Warna hitam yang selalu hadir dalam setiap hari-harinya. Hanya hitam yang terdefinisi didalam memorinya.
Aku berhenti sejenak, kulihat dan kupahami wajah mereka satu-persatu. Terlihat raut ingin tahu kelanjutan akan kisah yang aku tuturkan. Laki-laki berkemeja abu-abu mengerutkan keningnya, penasaran yang kutangkap dari ekspresinya.
Aku pun melanjutkan kisahku meski terasa ada yang mengganjal sudut mataku. Kucoba menahan getaran pita suara agar stabil. Aku menghela napas panjang, lalu kembali berbicara. Anak itu adalah anak yang paling beruntung, sekaligus tidak. Ia memiliki seorang bidadari tanpa sayap yang rela menyerahkan warna pelangi untuknya. Sementara, ia tidak dapat melihat bidadari tanpa sayap yang telah menyerahkan warna pelangi untuknya itu. Ia hanya bisa melihat melalui bingkai foto. Namun, ia masih sanggup merasakan kasih sayangnya, merasakan sentuhan tangannya ketika mengelus keningnya, mendengar suara yang indah melebihi suara yang pernah ia dengar di dunia ini sekalipun suara kicauan burung yang bernyanyi merdu. Itu semua ia rasakan ketika dahulu, saat bidadari tanpa sayapnya masih sanggup berdiri dan bernapas.
“Kalian semua adalah orang yang berbahagia. Sejak keluar dari rumah yang paling aman yaitu rahim ibu, kalian bisa melihat wanita terindah dari ciptaan-Nya. Kalian bisa melihat pelangi tanpa hanya tahu warna hitam, dan melihat sosok bidadari tanpa sayap. Mengelus wajahnya yang mungkin saat ini sudah mulai menua. Saya adalah orang yang tidak beruntung, karena saya tidak pernah melihat sosok bidadari tanpa sayap yang telah membawa saya ke alam dunia. Walaupun begitu, saya adalah orang yang paling beruntung, karena telah memiliki bidadari tanpa sayap sepertinya. Ia ingin membuktikan pada semesta alam bahwa cintanya adalah seluruh ketulusan, kasih sayang, dan pengorbanan yang tak tergantikan.” Aku menyudahi kisah ini sambil menarik napas dalam-dalam.
Tak dapat kukira, butiran-butiran air jatuh dari sepasang ekor mata mereka. Begitupun aku, ku hapus butiran air mata dengan sehelai sapu tangan. Mereka semua bertepuk tangan, tak menyangka jika orang pendiam sejak SMA sepertiku mampu mengeluarkan sihir untuk mereka.
Mereka sepertinya sudah paham siapa yang menjadi pemenangnya. Seorang wanita berambut panjang sebahu yang sejak awal kedatanganku tidak nyaman, mendadak menyalamiku sambil tersenyum. Mereka semua bertepuk tangan sekali lagi. Aku membalas uluran tangannya, lalu menunduk sejenak.
“Kita sudah tahu pemenangnya adalah… Deva!” ujar wanita berambut ikal dan pirang. Aku pun tersenyum tak menyangka jika ceritaku dinobatkan menjadi yang terbaik.
Kini, giliranku untuk meminta hadiah pada siapa saja yang aku kehendaki. Aku hanya meminta satu, tidak hanya untuk orang yang aku pilih. Tapi, untuk mereka yang hadir dan pernah mengenalku. Satu harapan yang ku ucapkan, “Hargailah ibumu, melebihi engkau menghargai dirimu sendiri. Karena jika sampai kau kehilangannya sebelum ada sesuatu hal dari dirimu yang patut dibanggakan, maka kita akan menyesal selama-lamanya.” Setelahnya, aku berdiri dan mengucapkan salam perpisahan pada mereka sekaligus membayar pesanan makanan sebagai tuan pada malam ini.
***
Matahari mulai menampakkan dirinya. Sejak pukul 06.00 pagi aku sudah melangkahkan kaki menuju rumah sakit. Hari ini, sekitar pukul dua belas lewat lima belas menit, aku membantu dokter Jonathan untuk melakukan proses persalinan pasiennya. Ini bukan tugasku untuk yang pertama kalinya, mungkin sudah ke sekian kalinya. Dan… bukan yang sekian kalinya juga aku menjatuhkan butiran air yang membendung dipinggir mataku, dan akirnya pecah keluar hingga menyelam kedalam hati. Aku mempersiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan sebelum proses persalinan.
Ibu itu sudah menarik napas dalam-dalam. Dengan penuh keringat dan kekuatan dihempaskanlah rasa sakit itu keluar.  Hingga beberapa menit kemudian, tangis sang buah hati pecah. Tangisnya memecah ruangan yang tidak besar itu, bersama dengan isak tangis sang ibu.
Aku membopong sang malaikat kecil, membawanya menuju bidadari tanpa sayapnya. Ia mencium, mendekap, dan membawa malaikat kecilnya pada sentuhan hangat. Sang bidadari tanpa sayap dan malaikat kecilnya menghembuskan napas bersama-sama. Aku menitikkan air mata, mengingatkanku pada sosok bidadari tanpa sayapku yang aku yakin sudah damai dalam surga.
Aku bahagia melihatnya, karena malaikat kecil itu bisa terlahir normal. Tidak sepertiku dulu, seharusnya aku sudah bisa mengenali kehidupanku dengan baik, tetapi aku sama sekali tidak memiliki ingatan tentang rupa ibuku. Bahkan, aku tidak ingat pernah melihat wajahnya. Ibu adalah orang yang terbang begitu saja bersama daun-daun yang tertiup angin. Tapi, ibu adalah sosok bidadari tanpa sayap yang pernah hadir dalam hidupku dan tiba-tiba pergi begitu saja. Terkadang aku mendapat celaan karena menyandang status anak yatim piatu. Tapi, aku tidak membenci ibu yang membawaku ke semesta alam. Aku merindukan ibu dan selalu merindukannya.
***

Image by : Devianart
Writer : Rafidah Aprilia